The Ultimate Desire

Dulu temen saya di Vietnam, almarhum Mas Sapto, punya prinsip sendiri untuk memilih memberikan sedekah ke masjid. Biasanya orang-orang, atau setidaknya saya, ngga akan ambil pusing mau ngasih sedekah di masjid yang mana. Toh sama aja, tergantung niat. Tapi beliau selalu memprioritaskan ngasih ke masjid yang “kurang terkenal” dan tidak terletak di pusat kota. Karena, biasanya masjid tersebut jarang dikunjungi wisatawan-wisatawan atau expat muslim dan secara logika tidak menerima sumbangan sebesar masjid-masjid di pusat kota. Saya pernah mengantar beliau “blusukan” ke masjid yang biasa dia sumbang. Pengurus masjidnya menyambutnya dengan ramah dan berusaha menjamu kami. Jarang-jarang ada orang asing yang berkunjung ke sana dan “mungkin” bersedekah dengan jumlah yang relatif besar.

Cerita lain, ada juga seseorang yang memutuskan untuk menjadi donatur tetap tiap bulan sebuah yayasan yatim piatu. Dia menemukan yayasan ini secara kebetulan dari percakapannya dengan orang lain. Dia pun mendapat kontak salah satu pengurusnya. Bulan pertama, dia sumbang. Bulan kedua, ketiga, seterusnya, hingga sang pengurus penasaran dan meminta sang donatur berkunjung karena mereka ingin bertemu. Yayasan ini bukan sebuah yayasan yang menaruh iklan dimana-mana atau memanfaatkan adsense. Mungkin hanya sebatas info mulut ke mulut atau whatsapp ke whatsapp, meski mereka pun memiliki website sendiri. Dengan adanya donatur yang tiba-tiba datang dan mensupport kegiatan mereka, hal itu menimbulkan rasa ingin untuk bertemu.

Beberapa hari yang lalu saya sempat mendengar ceramah Ust. Khalid Basalamah tentang nikmat. Yang saya tangkap, nikmat itu relatif dan ada tingkatan-tingkatannya. Sebagai contoh, silakan dibandingkan, lebih nikmat mana: makan enak atau punya gadget bagus? Berhubungan xxx atau punya mobil mewah? Punya saham bluechip beribu-ribu lot atau punya kesempatan trip tiap bulan ke luar negeri? Kalau sudah punya jawabannya, sekarang coba bandingkan kesemuanya itu dengan kondisi ini: Jika ada seorang ibu yang memiliki anak, tapi anak tersebut koma bertahun-tahun (Kebetulan di Kompas pagi ini ada berita meninggalnya mantan pemain bola Prancis setelah koma selama 39 tahun). Bayangkan, anak ibu tersebut koma selama itu. Lalu suatu saat Allah SWT menghendaki anak tersebut sadar kembali. Apakah nikmat atau kesenangan-kesenangan yang disebutkan di awal akan sepadan dengan nikmat yang diterima ibu yang anaknya sadar setelah koma bertahun-tahun? Kalau saya mencoba berempati, nikmat si Ibu akan jauh lebih besar.

Dulu saya pernah berpikir, bagaimana caranya bisa merasakan bahwa kenikmatan yang paling tinggi nanti saat kita masuk surga adalah bertemu Allah SWT? Padahal “sepertinya” deskripsi tentang surga lebih menarik. Di Al-Quran dan hadis-hadis, kita bisa menemukan informasi yang memvisualisasi surga yang begitu indah, mengalir banyak sungai, luasnya tidak terbatas, banyak bidadari-bidadari cantik bermata jeli, kita minta apapun bisa dikabulkan, kita tidak akan menua, dst. Beberapa hari ini, setelah berusaha memikirkan kejadian-kejadian yang saya alami dan saya ceritakan di paragraf di atas, jadi masuk akal, mengapa kenikmatan utama nanti di surga adalah dipertemukan dengan Sang Pencipta kita. Di dunia ini kita dihujani banyak nikmat. Bagaikan bumi yang selalu di “hujani” neutrino-neutrino. Kita pun sama, dihujani berbagai macam nikmat yang kalau kita pikirkan akan sangat banyak. Setidaknya, dari penjelasan di buku Al-Hikam, kita menerima dua nikmat: nikmat penciptaan dan nikmat pengurusan. Kita diciptakan oleh Allah sebagai manusia. Dan, dengannya kita bisa merasakan berbagai macam keindahan dunia. Lalu, sehari-hari kita diurus. Jantung kita tidak berhenti bekerja tanpa kita perlu pusing memikirkan bagaimana menjaga ia tetap bekerja. Kita memiliki reaktor paling hebat di alam raya, sistem pencernaan, yang bisa mengubah makanan menjadi energi. Dan banyak lagi breakdown dari nikmat penciptaan dan pengurusan itu kalau kita pikirkan dan renungkan .

Dengan banyaknya nikmat ini, tidakkah kita kangen untuk bertemu Sang Pemberi nikmat sebagai “ultimate desire” kita? Sama seperti pengurus masjid dan yayasan di kisah di atas yang kangen ingin bertemu donatur-donaturnya.

*Pertanyaan di atas, adalah pertanyaan untuk saya. Feel free untuk merenung juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s