Saat Peuyeum Diproduksi di Amsterdam


Introduction

Negeri Belanda atau Holland Bakery adalah sebuah negara maju di benua Eropa yang telah menjadi salah satu pusat ekonomi, industri, dan teknologi di dunia. Salah satu produk terkenalnya, yaitu Hollanda Choco Bear terbukti telah menyihir sebagian besar warga dunia sehingga mereka rela pergi jauh-jauh dari negerinya menuju The Netherlands, bukan hanya untuk menukarkan bohlam Phillips yang pecah atau hanya sekedar minta garansi handycam JVC, namun untuk menimba ilmu, mencari penghasilan, serta berinteraksi untuk menciptakan network yang kuat dalam pekerjaan mereka yang pada akhirnya akan membawa benefit bagi dirinya masing-masing.

(waduuh…maafffh, error tak tertahankan, semoga tidak ada yang merasa dirugikan…, yang merasa diuntungkan karena sudah diiklankan dimohon doanya biar saya menang di kompetiblog ini 😉 hehe..peace… )

Global Competition/Global Rivalry

Di zaman yang serba canggih, serba otomatis, dan semakin didominasi oleh teknologi ini, telah menjadikan dunia kita menjadi dunia yang tanpa batas. Interaksi yang dahulu dilakukan setiap orang (bahkan hanya dalam lingkup daerah) sangat terbatas, saat ini hampir tiada batas!

Salah satu dampak yang sangat signifikan adalah munculnya persaingan global. Dengan tiadanya batas yang menghalangi orang-orang untuk berinteraksi dan bersaing, timbullah efek tersebut.

Persaingan, bisa bermakna positif maupun negatif. Tergantung kita menyikapinya. Jika kita cukup bijak, dewasa, dan penuh persiapan, persaingan akan menguntungkan dan semakin melejitkan potensi kita. Sebaliknya, jika kita tidak punya persiapan apapun untuk bersaing, dia akan membunuh kita.

Global Community

Menurut saya, untuk membuat persaingan global menjadi positif itulah kita perlu apa yang dinamakan global community. Pasti inget kan, lebih susah mematahkan satu iket sapu lidi dibandingkan satu batang Poki-Poki rasa coklat…(yah, maksudnya kerja bareng menghasilkan kekuatan yang lebih daripada kerja sendiri-sendiri – jangan terlalu serius ah…hehe). So, a community can help us to achieve something faster, easier, also can help us to protect ourself from devastated power. Untuk menembus persaingan global ini, serta bertahan dari efek buruk yang ditimbulkannya, kita memerlukan sebuah komunitas, tidak cukup hanya komunitas RT/RW atau kelurahan, namun sebuah komunitas global dimana kita bisa saling belajar, bertukar pikiran, dan saling menghargai sehingga persaingan global ini menjadi sebuah ajang positif untuk meng-upgrade diri kita dan memacu negeri kita agar sejajar dengan bangsa-bangsa maju lainnya.

How to enter global community?

Teman, tentunya paragraf pertama di atas cukup menjawab pertanyaan ini. Belanda adalah salah satu dari sekian banyak negara maju yang menyediakan fasilitas untuk “belajar” dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks. Kondisi multination sekaligus multiculture negara tersebut diharapkan dapat menjadi sebuah simulasi bagi kita tentang bagaimana bersikap dan menyikapi persaingan global ini. Dengan kata lain, memasuki negeri Belanda (dan tentu saja di sana bukan hanya minta garansi handycam JVC! – keukeuh…) dapat memberikan kita sebuah kesempatan besar untuk bergabung dalam sebuah komunitas global.

Dan terbukalah peluang untuk membuat pabrik peuyeum di Amsterdam…(smile!)

Ingin langkah awal??

klik-di sini

8 thoughts on “Saat Peuyeum Diproduksi di Amsterdam

  1. @rusydi:terimakasih…sudah saya liat blognya.veteran blogging nih…hehehesemangat!@t\’ratih:bisa..bisa!insya Allah..tunggu aja saatnya nanti, kami-kami ini, teknik sipil yang akan buat kaya gitu di Indonesia

    Like

  2. @ Aul:trim\’s…Iy,dr yang simpel2..belajar bhs.inggris contohnya.Ayo gabung ama CEC (Civil English Club) hehehe…globalisasi sudah mulai yah…tapi jangan sampe lupakan tanah air kita ya…Aul,ada rikues tuh, bikin sistem transportasi sepeda yg bagus.Hehe…Jd pengen bersepeda jg nih setelah denger cerita Pa Harmein.Cuman ga punya.Hahaha

    Like

  3. @ayu disa anisa sulistyowati:iyah,indah nian ya…bagus pula pendidikannya, dari dulu orang Indonesia kan belajar ke sana sebelum ada perguruan tinggi di negeri ini…disa gembil juga mau ke sana ya?

    Like

Leave a Reply to ayu disa anisa sulistyowati Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s